![]() |
Aksiologi berasal dari kata Yunani axion yang berarti nilai dan logos yang artinya ilmu sehingga aksiologi berarti ilmu tentang nilai. Nilai adalah sebuah pemaknaan terhadap sesuatu mengenai baik dan buruknya sesuatu yang manusia amati. Pemberian nilai terhadap sesuatu itu bersifat relatif karena pandangan seseorang dengan yang lainnya berbeda terhadap nilai tersebut.
Secara umum, aksiologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempelajari tentang hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu tidak akan sia-sia jika kita bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk manusia secara umum. Jadi, ketika kita memahami akan manfaat mempelajari matematika kita tidak akan menganggap bahwa matematika itu sulit, otak kita terbatas, atau matematika hanya tentang rumus. Karena pada hakikatnya mempelajari matematika sama halnya dengan menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang selalu berkembang.Jika dikaitkan dengan matematika, maka aksiologi matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat dan manfaat matematika dalam kehidupan.
Berdasarkan tulisan Prof Marsigit (Marsigit, 2004) menyebutkan bahwa matematika terkait dengan semua pengetahuan dari diri manusia, maka jelaslah bahwa matematika tidaklah bersifat netral dan bebas nilai. Dengan demikian matematika memerlukan landasan sosial bagi perkembangannya. Shirley (1986: 34) menjelaskan bahwa matematika dapat digolongkan menjadi formal dan informal, terapan dan murni. Berdasarkan pembagian ini, kita dapat membagi kegiatan matematika menjadi 4 (empat) macam, di mana masing-masing mempunyai ciri yang berbeda-beda:
- Matematika formal-murni, termasuk matematika yang dikembangkan pada Universitas dan matematika yang diajarkan di sekolah;
- Matematika formal-terapan, yaitu yang dikembangkan dalam pendidikan maupun di luar, seperti seorang ahli statistik yang bekerja di industri.
- Matematika informal-murni, yaitu matematika yang dikembangkan di luar institusi kependidikan; mungkin melekat pada budaya matematika murni.
- Matematika informal-terapan, yaitu matematika yang digunakan dalam segala kehidupan sehari-hari, termasuk kerajinan, kerja kantor dan perdagangan.
Senada dengan itu, tujuan adanya
matapelajaran matematika disemua jenjang
sekolah dan perguruan tinggi yang dirumuskan oleh National Council of Teacher
of Mathematic (2000:29) juga tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari,yaitu:
1. Belajar komunikasi.
2. Belajar bernalar.
3. Belajar untuk memecahkan masalah.
4. Belajar untuk mengaitkan ide.
5. Belajar mempresentasikan ide-ide.
Selain 5 hal yang disampaikan oleh NCTM, manfaat yang akan didapatkan dari mempelajari matematika adalah melatih diri untuk bersikap disiplin, pantang menyerah, menyelesaikan masalah secara sistematis dan mengungkap kembali ide dengan praktis, sistematis dan efisien. Sikap tersebut dilatih melalui proses belajar yang inovatif, memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk membangun dan mengembangkan pengetahuannya. Selain itu, mindset yang menganggap bahwa matematika hanya tentang rumus dan menghitung hal abstrak perlu diubah karena hakikatnya kehidupan manusia tidak terlepas dari matematika sejak bangun tidur hingga kembali tidur. Jika kita perhatikan, detak jam, ubin di rumah, bunga yang sedang mekar, tiang listrik yang bejejer, aktivitas jual beli semuanya merupakan pola dan aktivitas yang melibatkan matematika.
Jadi, ketika kita memahami akan manfaat mempelajari matematika kita tidak akan menganggap bahwa matematika itu sulit, otak kita terbatas, atau matematika hanya tentang rumus. Karena pada hakikatnya mempelajari matematika sama halnya dengan menyiapkan diri dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang selalu berkembang.
