Pernahkah kita merenungkan tentang apa yang kita alami hari ini?
Pernahkah kita
merenungkan kalau apa yang kita lakukan dimasa lalu adalah penentu menjadi apa
kita saat ini? Pernahkah kita merenungkan bahwa yang kita lakukan hari ini
adalah penentu bagi masa depan kita?
Ya, mungkin secara sadar maupun tidak sadar
pengalaman yang pernah kita alami berpengaruh terhadap kita sekarang, begitupun
kita sekarang yang akan menjadi penentu kita akan datang. Menariknya, tidak
semua dari kita menyadari bahwa pengalaman ini juga mempengaruhi cara berfikir
bahkan perilaku kita. Hal ini senada dengan pemikiran Immanuel Kant, seorang
filsuf yang mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme ( antara
budi dengan indera) dengan menunjukkan bahwa keduanya saling melengkapi. Sebelum
berbicara mengenai bagaiman pengalaman dan pengaruhnya terhadap pemikiran kita,
mari kita berkenalan dengan pemikiran Immanuel Kant dalam bukunya The Critique
of Pure Reason.
Memahami pemikiran Kant yang dituangkannya dalam The Critique of
Pure Reason bukanlah hal yang mudah. Hal ini dikarenakan banyak istilah-istilah
yang pengertiannya tidak seperti istilah pada umumnya. Misal, istilah estetika
yang biasanya digunakan sebagai ungkapan apresiasi terhadap keindahan dan seni,
tetapi Kant menggunakan istilah estetika mengacu pada persepsi yang ditangkap
melalui indera secara langsung. Kant membagi estetika menjadi dua bagian, yaitu
aspek intuitif dan aspek konseptual. Persepsi dalam pengertian Kant dianggap
sebagai ‘data mentah’ yang hanya mencapai suatu keteraturan dan pengertian lewat
konseptualisasi. Kant mengartikan intuisi sebagai ‘data mentah’ pengetahuan dari
pengalaman tanpa melalui proses konseptualisasi. Sebagai contoh, kita seringkali
menemukan benda berbentuk kotak persegi yang memiliki ruang untuk menyimpan
sesuatu, tanpa melalui proses konseptualisasi kita tidak akan faham bahwa benda
tersebut merupakan salah satu bentuk bangun ruang yaitu Kubus. Sehingga apabila
ada benda bentuk yang sama kita hanya akan mengingat kotak tersebut, karena
pengetahuan kita hanya sebatas pengalaman yang belum melalui proses
konseptualisasi.
Terdapat banyak istilah dalam pemikiran Kant yang akan
menghubungkan antara pengalaman dengan pengetahuan. Kant membagi pengetahuan
kita menjadi sebagai berikut: - Suatu pernyataan bersifat analitik, jika
predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu
bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek
‘bola’. - Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut
menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut
tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu
berwarna merah”. - Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika
kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada
pengalaman. Contohnya : Kita mengetahui bahwa bilangan genap adalah bilangan yang dapat
di bagi dua. Ketika kita hanya mendengar bahwa bilangan genap itu dapat dibagi
dua tanpa ada pengalaman atau tanpa mempeljarinya, maka pernyataan tersebut
benar secara a priori. - Suatu pernyataan disebut benar secara
a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan
kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya
hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris. Misal, kita mengetahui bahwa
pada teorema pythagoras untuk mencaari panjang sisi miring suatu segitiga
siku-siku dapat menggunakan rumus sisi miring= √(〖sisi depan〗^2+〖sisi
samping〗^2 ). Setelah kita belajar teorema pythagoras tersebt secara langsung
maka pernyataan tersebut dapat dibenarkan secara a posteriori.
Seluruh
pernyataan analitik bersifat a priori dengan alasan, bahwa kebenaran logika
pernyataan tersebut terlepas dari pengalaman yang kita alami. Pernyataan ini
tidak membutuhkan bukti empris untuk penilaian kebenarannya. Seluruh pernyataan
a posteriori dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat
informasi tambahan pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada
pernyataan di atas, misalkan kita mengamati bola berwarna merah, maka pernyataan
sintetik ini menambahkan predikat ‘merah’ yang tidak terdapat pada subjek
(didapatkan melalui pengamatan) ke dalam subjek ‘bola’. Jika kita menelisik
lebih dalam pemikiran Kant, maka kita akan menemukan bahwa terdapat keterkaitan
yang kuat antara pengalaman yang diperoleh dengan indera dan pengetahuan yang
diproses melalui akal budi. Kant menuliskan,
“Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak
berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat menyinggung tentang pengetahuan
transendental. Pengetahuan transendental bukanlah sesuatu yang dialami itu
sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa
pengalaman. Kant juga berpendapat, tanpa kemampuan akal budi untuk
mengorganisasikan dan mengkonseptualisasikan pengalaman, kita tidak akan dapat
merasakan pengalaman itu sendiri.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
pengalaman merupakan separuh ilmu, ilmu akan lengkap jika disertai dengan
pengalaman. Belajar bukan hanya tentang apa yang disampaikan oleh guru, belajar
bukan hanya apa yang dibaca secara tektual dari buku. Belajar merupakan proses
pengintegrasian antara panca indera dan akal budi kita.
Belajarlah dari setiap
pengalaman yang di dapat.
Gunakanlah akal budi kita agar dapat menghayati
pengalaman.
Dengan pengalaman dan akal budi kita akan bijak menempatkan diri
sesuai ruang dan waktu.
Karena orang yang cerdas, adalah orang yang pandai
menempatkan dirinya sesuai dengan ruang dan waktu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar